Entri Populer

Jumat, 29 Oktober 2010

Berusaha, Bersabar, & Bersyukur

Waktu,menjadi fokus yang amat penting dan dominan. Karena waktu tidak pernah tergantikan, berjalan tanpa dapat dihentikan. Waktu jualah yang menjadi kunci jawaban dari masa depan seseorang. Apakah ia akan mendapatkan kehidupannya lebih baik atau sebaliknya. Jika waktu meninggalkan kita, hanya dua hal yang tinggal bersama; sesal atau amal.
Untuk mencapai tujuan hidup itu, ada tiga kunci yang harus dimiliki dan dijaga dengan sebaik-baiknya:
-Berusaha, berusaha dalam mencapai kehidupan yang lebih baik di dunia, juga harus berusaha mencapai posisi yang tertinggi dalam kehidupan akhirat.
-Bersabar, menjadi langkah yang penguat pondasi ikhtiar yang kita buat, agar kita dapat menjaga keyakinan cerita yang terbaik bagi kehidupan kita.
-Bersyukur,menjadi pengikat dari dua kunci kehidupan sebelumnya. Inilah yang menentukan kepuasan dari hasil akhir, pencerminan diri kita dalam memanfaatkan segala potensi diri atau sumber daya yang ada.
Tiga kunci tersebut nantinya akan menjadi penentu akan terbukanya pintu-pintu rizqi, tercukupinya segala kebutuhan kita. Dan yang paling penting adalah semakin dekatnya kita kepada Sang Khaliq.
Lantas, apakah kita mau untuk selalu berusaha, kemudian bersyukur dan bersabar dengan segala proses yang digariskan oleh-Nya. Jadi mari kita gunakan tiga kunci hidup itu dengan sebaik-baiknya, dengan demikian masa depan akan menjadi jauh lebih baik. Dalam kehidupan sementara, atau pun kehidupan abadi di akhirat nanti. (dari berbagai sumber).

Kamis, 21 Oktober 2010

Dilema Negaraku

Sebenarnya, proses reformasi yang sudah berlangsung hingga saat ini adalah kesempatan emas yang seharusnya dimanfaatkan secara optimal untuk merevitalisasi semangat dan cita-cita para pendiri negara ini untuk membangun negara Pancasila. Sayangnya, peluang untuk melakukan revitalisasi ideologi kebangsaan Indonesia dalam era reformasi ini kurang dimanfaatkan. Bahkan dalam proses reformasi, walau dengan sejumlah keberhasilan yang ada, terutama bidang politik-militer juga muncul ekses berupa melemaahnya kesadaran hidup berbangsa dan bernegara.
Manifestasinya muncul dalam bentuk gerakan sparatisme, tidak diindahkannya konsensus nasional, pelaksanaan otonomi daerah yang menyuburkan etnosentrisme, dan desentralisasi korupsi, demokratisasi dan HAM yang dimanfaatkan untuk mengembangkan paham sektarian, dan munculnya kelompok-kelompok yang mempromosikan secara terbuka ideologi di luar Pancasila. Maka dengan itu diperlukanlah sebuah sistem untuk meredam gerakan tersebut demi menjaga keutuhan negara ini.
Patut disadari oleh semua warga bangsa bahwa keragaman bangsa ini adalah berkah dari Allah SWT. Oleh sebab itu, semangat Bhineka Tunggal Ika harus tetap dikembangkan karena bangsa ini perlu hidup dalam keberagaman, kesetaraan, dan harmoni. Sayangnya, belum semua warga bangsa kita menerima keberagaman sebagai berkah. Oleh karenanya, kita semua harus menolak adanya konsepsi hegemoni mayoritas yang tidak melindungi minoritas karena konsep tersebut tidak sesuai dengan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan seluruh komponen bangsa wajib turut serta dalam bela negara.
Cita-cita yang mendasari berdirinya NKRI yang dirumuskan oleh the founding fathers telah membekali kita dengan aspek-aspek normatif negara bangsa yang menganut nilai-nilai yang sangat maju dan modern. Oleh sebab itu, tugas kita semua sebagai warga negara untuk mengimplementasikannya secara konkrit. NKRI yang mengakui, menghormati keragaman dan kesetaraan adalah pilihan terbaik untukmenghantarkan masyarakat kita pada pencapaian kemajuan peradabannya. Perlu disadari oleh semua pihak bahwa proses demokratisasi yang sedang berlangsung ini memiliki koridor, yaitu untuk menjaga dan melindungi keberlangsungan NKRI, yang menganut ideologi negara yaitu Pancasila yang membina keberagaman, dan memantapkan kesetaraan, oleh karenanya, sebenarnya, tidak semua hal dapat dilakukan dengan mengatasnamakan demokrasi.
Pancasila, sebagaimana ideologi manapun di dunia ini, adalah kerangka berfikir yang senantiasa memerlukan penyempurnaan. Karena tidak ada satu pun ideologi di dunia ini yang disusun dengan begitu sempurna. Setiap ideologi memerlukan hadirnya proses dialektika agar ia dapat mengembangkan dirinya dan tetap adaptif dengan perkembangan yang terjadi. Dalam hal ini, sebagai generasi penerus, mahasiswa yang mencintai negara dan bangsa ini berhak ikut dalam proses merevitalisasi ideologi pancasila dalm kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, prestasi bangsa kita akan menentukan posisi Pancasila di tengah peraturan ideologi dunia saat ini dan di masa mendatang. Bila tidak, tenggelamlah ideologi ini.
Kemudian dari pada itu, Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) tidak berarti mengharuskan seluruh rakyat ikut memanggul senjata saat negara dalam keadaan perang. Karena itu, jika ketentuan perundang-undanganmenyebutkan dengan jelas, siapa-siapa saja yang masuk dalam kategori commbattan (orang yang bertempur), dengan sendirinya lawan tidak bisa berbuat semaunya terhadap rakyat sipil.
Sishankamrata yang notabene merupakan sistem pertahanan dan keamanan Indonesia, tidak akan berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya jika tanpa didasari oleh semangat persatuan dan kesatuan yang disatukan dalam Wawasan Nusantara. Oleh karena itu, Wawasan Nusantara sangatlah diperlukan dalam rangka mempertahankan dan menjaga tetap teguhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tanpa didasari oleh semangat Wawasan Nusantara yang kuat, niscaya segala upaya dan tenaga yang dicurahkan untuk mempertahankan tetap teguhnya NKRI akan sia-sia dan tidak bermakna sama sekali. Untuk melengkapi penjelasan ini, beberapa hal yang perlu mendapat perhatian bersama, adalah sebagai berikut:
1. Menumbuhkembangkan pengertian dan hakikat dari Wawasan Nusantara sebagai alat pemersatu bangsa dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tenah masyarakat yang majemuk.
2. Menghayati dan memahami secara utuh tentang butir-butir dari Wawasan Nusantara yaitu rasa kebangsaan, paham kebangsaan, dan semangat kebangsaan yang merupakan jiwa bangsa Indonesia dan pendorong tercapainya cita-cita bangsa Indonesia.
3. Membina semangat kebangsaan, persatuan dan kesatuan bangsa di ligkungan anak bangsa dalam upaya mewujudkan Sishankamrata yang merupakan senjata dan kekuatan bangsa yang sangat dahsyat dalam menghadapi segala macam hambatan, tantangan, ancaman, serta gangguan yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Kita sangat yakin, terjadinya kekacauan negara saat ini, lebih disebabkan pernyataan dan tingkah laku dari sebagian elite politik, para pakar, dan kelompok kepentingan tertentu yang lebih mementingkan kelompoknya dari pada bangsa dan negara tercinta ini. Demikinlah penjelasan dari pentingnya peranan Sishankamrata yang dilandasi oleh semangat Wawasan Nusantara dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Minggu, 03 Oktober 2010

Kaum Terpelajar~Tsaqafah Islam~Nahdhatul Ummah

Persoalan yang dihadapi umat dan partai Islam saat ini adalah membangkitkan suatu masyarakat Islami. Sekarang, persoalanya adalah bagaimana menciptakan keserasian antara pikiran dan perasaan di kalangan kaum terpelajar, menciptakan keserasian antara individu dan masyarakat dalam suatu pemikiran dan perasaan, terutama antara kaum terpelajar dengan masyarakatnya. Sebab, kaum terpelajar telah menerima pemikiran-pemikiran asing dengan sepenuh hati, tetapi tanpa mengambil perasaan-perasaannya. Penerimaan mereka yang sepenuh hati itu telah memisahkan mereka dari masyarakat, juga telah mengakibatkan mereka memandang rendah dan tak peduli terhadap masyarakat. Pemikiran asing itu juga telah membuat mereka kagum dan hormat terhadap orang asing (budaya barat). Mereka berusaha mendekatkan diri dan bergaul erat dengan orang-orang asing, meskipun orang-orang asing ini adalah kaum penjajah.
Karena itu, kaum terpelajar semacam ini tidak akan mungkin dapat memandang berbagai situasi yang ada di negerinya, kecuali dangan mengikuti orang asing tersebut dalam memandang situasi negerinya,, tanpa memahami hakikat situasi sebenarnya. Mereka tidak lagi mengetahui apa yang dapat membangkitkan umat, kecuali dengan mengikuti orang asing tersebut ketika membicarakan kebangkitan (an-Nahdhah).
Hati nurani kaum terpelajar semacam ini tidak tergerak karena dorongan ideologi, tetapi tergerak karena sentiment patriotisme dan nasionalisme. Padahal emosi semacam ini adalah emosi yang salah. Akibatnya, ia tidak akan berjuang demi negerinya dengan benar, dan tidak akan berkorban untuk kepentingan rakyat secara sempurna. Karena perasaannya dalam melihat situasi negerinya, tidak dilandasi oleh pemikiran Islam. Ia juga tidak akan menangkap kebutuhan-kebutuhan rakyatnya dengan perasaan yang dilandasi pemikiran Islam. Kalaupun kita memaksakan diri untuk mengatakan bahwa ia berjuang menuntut suatu kebangkitan, maka sesungguhnya perjuangannya itu lahir dari konflik untuk kepentingan sesaat ataupun kepentingan pribadinya, atau suatu perjuangan yang meniru-niru perjuangan bangsa lain. Oleh karenanya, perjuangan tidak akan bertahan lama, dan akan hanya berlangsung sampai halangan untuk merebut kepentingannya lenyap, (yaitu) dengan diangkatnya ia menjadi pegawai atau dengan tercapainya apa yang menjadi ambisinya. Bisa juga perjuangannya itu akan luntur tatkala berbenturan dengan kepentingan pribadinya, atau tatkala ia dihambat dalam perjuangannya.
Manusia seperti ini tidak akan melahirkan sebuah kelompok yang benar, kecuali setelah lebih dahulu diselesaikan masalah-masalahnya, dengan menyelaraskan pemikiran dan perasaannya, dengan mendidiknya mulai dari awal dengan tsaqafah ideologis. Penyelesaian semacam ini mengharuskan dia menjadi seorang murid untuk membentuk pemikirannya dengan suatu format yang baru. Setelah menyelesaikan masalah ini, baru kita beralih kepada penyelarasan antara dia dan masyarakatnya. Dengan demikian, akan mudahlah kita menyelesaikan problem kebangkitan umat. Jadi seandainya tidak ada tsaqafah asing di negeri-negeri Islam, niscaya beban kebangkitan lebih ringan dari apa yang kita pikul sekarang.
Atas dasar itu maka adalah mustahil –dengan bercokolnya tsaqafah asing di tengah masyarakat- akan terbentuk sebuah kelompok (kaum terpelajar) yang benar. Kelompok yang seperti ini tidak akan terwujud atas dasar tsaqafah asing tadi.
Penjajah tidak sekedar menggunakan tsaqafah, bahkan mereka meracuni masyarakat Islam dengan berbagai pemikiran dan pandangan di berbagai bidang (politik, social, budaya, ekonomi, falsafah, dll) yang merusak pandangan hidup kaum Muslim. Dengan itu mereka rusak suasana Islami yang ada, serta mengacaukan pemikiran kaum Muslim dalam segala segi kehidupan.
Dengan semua itu, hilanglah benteng pertahanan kaum Muslim yang alami. Ini mengakibatkan setiap upaya kebangkitan akan berubah menjadi gerakan yang kacau balau dan saling bertentangan –menyerupai gerakan binatang yang sedang disembelih- yang berakhir dengan kematian, keputusasaan,, dan menyerah pada keadaan. Orang-orang asing ini berusaha dengan sungguh-sungguh menjadikan kepribadian mereka sebagai mercusuar tsaqafah kita, yang selalu digunakannya sebagai solusi suatu problem. Mereka juga berusaha agar kiblat kegiatan, contoh kemajuan, dalam segala kehidupan, adalah meminta bantuan orang asing (barat) dan menyerahkan segala urusan kepadanya.

(cuplikan dari P3I)